Thursday, May 31, 2012

KERAJAAN KECIL DI GAPUK ITU BERNAMA PENGHULU?


Harapan masyarakat Gapuk yang menginginkan suatu sistem musyawarah dalam pemilihan pemimpin atau jabatan yang  berlandaskan Al Qur’anul Karim dalam kehidupan bermasyarakat semakin jauh, hal ini di sebabkan oleh egoisme dan taklid buta masyarakat awam terhadap orang yang ditokohkan apalagi kalau sudah menyandang gelas Ustadz.


Perkembangan masyarakat Gapuk yang semakin hari sumber daya manusianya(SDM) semakin baik yang di tunjukkan dengan semakin banyaknya generasi muda Gapuk yang melanjutkan kuliah di perguruan tinggi baik di lombok maupun di pulau Jawa dan letak Lingkungan Gapuk yang berada di perkotaan, maka sangat wajar bila generasi sekarang ini mengharapkan sistem pemilihan secara musyawarah bukan sistem tunjuk-tunjukan apalagi sistem warisan baik untuk Jabatan Penghulu, Kepala Lingkungan dan Pengurus Masjid.

Dari ketiga jabatan di atas, hanya jabatan Penghulu yang masih menggunakan sistem tunjuk dan yang menunjuk itupun Cuma satu orang yaitu ketua Pengurus Masjid. Penunjukan penghulu di lakukan pada saat sholat Jum’at di Masjid At Takrim Gapuk. Tanggapan masyarakat waktu itu ada yang pro, kontra dan netral. Yang netral paling banyak karena mereka tidak mau ambil pusing dengan urusan seperti itu. Namun sebagai orang yang berpendidikan seharusnya sadar sendiri masak cuma jabatan penghulu masjid harus di tunjuk oleh satu orang bukan oleh masyarakat?

Untuk membuat kesan agar jabatan penghulu itu syah dan di restui oleh masyarakat maka mengalirlah karangan sebuah cerita dari mulut ke mulut kalau jabatan penghulu telah diwariskan untuk putra penghulu yang dulu(emangnya jabatan penghulu itu seperti kerajaan yang bisa diwariskan?? Haha). Mendengar jabatan penghulu yang di wariskan membuat kita akan tertawa terpingkal-pingkal sambil kentut, hari gini koq masih ada jabatan yang diwariskan??? Dah kuno bro!!

Memang sebaiknya suatu jabatan itu bukan di dapat karena ada warisan dari orang tua(kecuali orang tua yang membentuk penghulu di tanahnya sendiri dengan warga keturunannya sendiri juga) atau karena di tunjuk oleh satu orang masyarakat Gapuk. Kita yang mengerti sekidit tentang agama seharusnya mencoba dan meneladani bagaimana sistem pemilihan empat khalifah yang terkenal itu. Keempat Khalifah di pilih dengan sistem musyawarah bukan karena ada warisan atau karena penunjukan oleh satu orang tapi hasil musyawarah kaum muslim. Itulah sistem islam yang sejatinya yang harus kita ikuti bukan sistem kerajaan….

Semoga tulisan ini bisa kita ambil hikmahnya agar kelak tidak terjadi lagi dalam pemilihan jabatan di masyarakat Gapuk  dengan mengatas namakan warisan atau sistem tunjuk-tunjukan kayak anak kecil. Aamiin.

No comments:

Post a Comment